Memberdayakan dari Akar Rumput, Mendorong Sistem Pangan yang Adil dan Berkelanjutan

Selama lebih dari tiga tahun, Koalisi Pangan BAIK telah bekerja melalui program Voices for Just Climate Action (VCA) di Kabupaten Manggarai, Flores Timur, dan Lembata. Terdiri dari anggota Yayasan KEHATI (Keanekaragaman Hayati Indonesia), KRKP (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan), Yayasan Ayo Indonesia, Yayasan Ayu Tani Mandiri, dan YASPENSEL (Yayasan Pengembangan Sosial Ekonomi Larantuka), mereka memperkuat dan mendorong pemuda, perempuan, petani, serta masyarakat pedesaan untuk menyuarakan dampak perubahan iklim dan solusi lokal, khususnya dalam memperkuat sistem pangan agroekologi. Bekerja sama dengan para pegiat lokal yang mata pencariannya bergantung pada sumber daya alam, mereka telah melaksanakan berbagai inisiatif untuk mengamankan masa depan yang lebih berkelanjutan.

6 November 2025

 

Sebuah studi partisipatif yang dilakukan oleh Koalisi Pangan BAIK di 10 desa di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Flores Timur, dan Lembata menunjukkan bahwa 85% petani melaporkan perubahan jadwal tanam mereka karena cuaca yang semakin tidak menentu. Petani cengkeh dan kopi di desa Goloworok dan Wewo di Manggarai, serta di desa Colol di Manggarai Timur, mengalami gagal panen dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya jumlah hama dan penyakit tanaman, bersamaan dengan munculnya hama baru, menyebabkan petani di Desa Tal, lumbung padi Manggarai, mengalami penurunan hasil panen. Petani tanaman pangan di Kabupaten Flores Timur dan Lembata mengalami kondisi serupa. Hasil panen mereka menurun. Jumlah hari hujan berkurang, namun intensitas curah hujan meningkat sekitar bulan Januari dan Februari.

 

 

Koalisi Pangan BAIK bekerja sama dengan para pegiat lokal, termasuk petani, nelayan, dan produsen pangan yang mata pencariannya bergantung pada sumber daya alam dan oleh karena itu menanggung dampak perubahan iklim yang lebih berat. Sejak bergabung dengan program VCA, mereka telah melaksanakan berbagai kegiatan dan praktik baik, termasuk menyuarakan dan menerapkan solusi berbasis lokal, khususnya mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman pangan lokal sebagai adaptasi terhadap perubahan iklim. Aksi iklim berbasis komunitas ini merupakan upaya untuk mengamankan kehidupan yang lebih berkelanjutan untuk hari ini dan generasi mendatang.

 

MENUMBUHKAN HARAPAN DI LAHAN KERING

Di Desa Kawalelo, Kabupaten Flores Timur, sebuah daerah kering dan berbatu, komunitas Bambu Andaka mulai melestarikan mata air Watonitung pada tahun 2022. Mereka menanam lebih dari 3.000 pohon bambu di sekitar mata air dan merawatnya, berharap dapat menyediakan air yang cukup untuk desa dan menghilangkan kebutuhan untuk membelinya.

 

Komunitas Bambu Andaka dengan pembibitan bambu mereka

Di desa Tapobali dan Hoelea II di Kabupaten Lembata, pemuda dari komunitas GEBETAN dan Rumpu Rampe Hoelea menanam pangan lokal seperti sorgum dan jelai lokal (jali-jali). Tanaman ini membutuhkan lebih sedikit air, ramah lingkungan, dan mudah beradaptasi dengan kekeringan. Mereka juga berkolaborasi dengan petani lokal untuk mengembangkan produk, menyediakan sumber pangan alternatif, dan mempromosikan keanekaragaman pangan untuk keberlanjutan desa mereka.

 

Komunitas GEBETAN menjelaskan tentang pangan lokal kepada pengunjung pameran

Di desa Tal dan Rai di Kabupaten Manggarai, komunitas Momang Lino mengadopsi pertanian organik karena dampak perubahan iklim. Mereka menerima pelatihan dari program VCA, menggunakan limbah pertanian dan peternakan untuk menghasilkan biochar dan pupuk. Hal ini memungkinkan mereka menanam berbagai sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan, mendukung ketahanan pangan dan menghasilkan pendapatan dari penjualan. Pemerintah Desa Tal mengakui upaya mereka dengan memberikan dukungan finansial untuk plot demonstrasi hortikultura organik, dan mereka kini memimpin inisiatif pertanian berkelanjutan untuk Kelompok Tani Gerak Tedeng.

Komunitas Momang Lino juga mengembangkan kewirausahaan berbasis pangan lokal menggunakan resep tradisional, dengan perempuan sebagai kreator utama, membentuk Kelompok Tani Perempuan Gejur Cama. Inisiatif iklim mereka telah dipresentasikan di festival dan forum dengan pembuat kebijakan. Hasilnya, pemerintah Kabupaten Manggarai membentuk Sekretariat Bersama dan Kelompok Kerja untuk Pembangunan Tangguh Iklim, sebuah platform untuk koordinasi masyarakat sipil-pemerintah mengenai kebijakan iklim.

 

Komunitas Momang Lino memanen hasil sayuran

Pindah ke Desa Hewa, Kabupaten Flores Timur, Komunitas Wetan Helero mendokumentasikan dan menanam kembali tanaman pangan lokal yang terabaikan karena beberapa kebijakan yang memprioritaskan komoditas tertentu. Mereka telah berhasil mendokumentasikan dan menanam kembali 17 varietas padi lokal, enam varietas jagung lokal, sorgum, milet, dan berbagai jenis kacang-kacangan. Mereka juga merintis kewirausahaan yang menyeimbangkan tujuan ekonomi dengan konservasi lingkungan. Saat ini, gerakan Wetan Helero memberdayakan kelompok pemuda dan perempuan di Desa Hewa. Ini juga berfungsi sebagai platform berbagi pengetahuan bagi mereka yang tertarik pada pangan lokal, mendorong dialog antar generasi dan transfer pengetahuan di antara komunitas lokal, domestik, dan internasional. Dialog antar generasi berkembang, dan transfer pengetahuan mengalir.

 

Wetan Helero mendokumentasikan berbagai pangan lokal

Solusi lokal yang dapat direplikasi yang diprakarsai oleh para pegiat lokal di Flores dan Lembata — menggabungkan pelatihan teknis, penguatan kapasitas, keuangan yang dikelola komunitas, dan advokasi kebijakan — akan diterapkan di lokasi lain. Namun, tantangan signifikan tetap ada. Meskipun sangat dapat direplikasi, peningkatan skala memerlukan adaptasi yang cermat, dukungan finansial yang konsisten, dan koordinasi yang efektif di antara berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi hambatan.

Menghadapi tantangan masa depan membutuhkan upaya kolaboratif dengan pemuda, perempuan, dan kelompok rentan lainnya. Keterlibatan kelompok rentan sangat penting untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim. Kelompok-kelompok ini seringkali tidak diakui, tidak didengar, atau bahkan dianggap sebagai aktor yang tidak signifikan. Memastikan bahwa tidak ada pihak atau kelompok yang tertinggal atau terpinggirkan sangat penting untuk mewujudkan sistem pangan yang adil dan berkelanjutan.

Pelajari lebih lanjut tentang mitra kami