Desa Matondoni: Sebuah komunitas dalam bahaya
Dalam kunjungan lapangan baru-baru ini ke Desa Matondoni, sebuah tempat yang terkenal dengan kekayaan budaya, pemandangan indah, kerajinan tangan, dan pembuatan dhow, kami tidak terpukau dengan pesonanya, melainkan dengan krisis yang terjadi. Gunungan sampah, plastik, botol, tas, pembungkus, jala bekas, dan limbah rumah tangga berserakan di sepanjang pantai, mencium ombak Samudra Hindia. Ini bukan sekadar sampah. Ini adalah jeritan tanpa suara dari lingkungan kita.
Ini adalah kisah tentang orang-orang yang tanpa sadar meracuni sumber kehidupan yang telah menopang kehidupan dari generasi ke generasi. Ini adalah kisah tentang pengabaian, kehilangan, dan masa depan yang terancam.
Kami berada di Matondoni dalam proyek ”Membangun Masa Depan Iklim di Lamu”, sebuah proyek yang didukung oleh SouthSouthNorth dan diimplementasikan oleh Aliansi Perempuan Lamu. Tujuan kami adalah untuk melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi tantangan, ancaman, risiko, dan peluang yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Kami tahu bahwa ancaman-ancaman itu akan ada. Namun, kami tidak siap untuk menghadapi ancaman yang bersifat pribadi, mendesak, dan memilukan.
Selama berabad-abad, masyarakat Matondoni bergantung pada laut. Lautan telah menyediakan makanan, air, transportasi, dan cara hidup. Namun kini, lautan tersebut sedang tercekik oleh tindakan kita, atau lebih tepatnya, kelambanan kita. Sampah plastik menyumbat garis pantai, membelit akar bakau, dan mengapung di permukaan. Setiap kali air pasang, lebih banyak sampah yang terbawa ke laut, mengancam kehidupan laut dengan cara yang tidak dapat dipulihkan. Ikan menelan partikel mikro plastik, mereka tercekik oleh sampah, dan ekosistem bakau, yang merupakan penyangga vital terhadap erosi pantai dan tempat berkembang biak bagi ikan, dihancurkan.

Yang paling membuat saya sedih adalah mendengar cerita dari para perempuan dan anak-anak. Hampir di setiap isu iklim, mereka menanggung beban terbesar, dan di Matondoni, hal ini benar adanya. Para perempuan, yang terutama bertanggung jawab untuk mengurus rumah tangga, memasak makanan dengan kayu bakar yang semakin menipis atau ikan yang terkontaminasi, dan merawat anak-anak yang sakit karena penyakit yang terkait dengan limbah dan polusi.
Ketika kehidupan laut menurun, itu berarti pendapatan rumah tangga yang lebih rendah. Anak perempuan sering kali menjadi orang pertama yang ditarik keluar dari sekolah untuk membantu menambah tenaga kerja keluarga atau memangkas biaya. Ini adalah reaksi berantai, dan akarnya bukan hanya kemiskinan atau perubahan iklim; tetapi juga cara kita memperlakukan lingkungan.
Ketika saya bertanya kepada seorang ibu dari lima orang anak, apa yang paling ia takuti, ia berkata, ”Siku moja, watoto wetu hawatakuwa na chochote cha kuvua. Bahari itakuwa imekufa.” (Suatu hari nanti, anak-anak kita tidak akan punya apa-apa lagi untuk memancing. Lautan akan mati).
Ini adalah ketakutan yang nyata, ketakutan yang hanya dapat dihentikan oleh pilihan kita hari ini. Ini bukan masalah yang jauh untuk diselesaikan oleh orang lain. Ini adalah masalah kita, garis pantai kita, tanggung jawab kita. Pertama-tama kita harus menyadari bahwa membuang sampah ke laut bukan hanya sebuah kebiasaan, tapi juga merupakan bentuk kekerasan secara perlahan terhadap diri kita sendiri, masa depan kita, dan anak-anak kita.
Inilah yang bisa kita lakukan, mulai hari ini:
- Tolak plastik sekali pakai jika memungkinkan.
- Gunakan kembali wadah, tas, dan bahan.
- Mendaur ulang jika ada pilihan atau permintaan untuk membuat pilihan.
- Mendidik anak-anak kita, tetangga kita, orang tua kita tentang mengapa hal ini penting.
- Mengorganisir pembersihan pantai sebagai sebuah komunitas.
- Bersuara lantang menentang praktik-praktik pencemaran dan memberikan contoh.
Aliansi Perempuan Lamu, melalui proyek Membangun Masa Depan Iklim di Lamu, berkomitmen untuk mendukung solusi lokal. Kami bekerja sama dengan kaum muda, perempuan, orang tua, dan tokoh masyarakat untuk berbagi pengetahuan, memberikan pelatihan, dan mengadvokasi sistem yang melindungi lingkungan.
Namun kami tidak bisa melakukan ini sendirian. Kami membutuhkan Anda. Suara Anda penting karena laut yang sehat bukanlah sebuah kemewahan. Ini adalah hak. Dan itu adalah warisan kita.
Ditulis oleh Purity Kadzo, Aliansi Perempuan Lamu.
