Perjalanan Penuh Tujuan: Dibentuk oleh Pelajaran, Diperkuat oleh Perubahan, Dipandu oleh Harapan untuk Keberlanjutan

Di pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia bagian Timur, angin perubahan telah mulai berembus. Mereka membawa semangat komunitas yang tanpa lelah menjaga lingkungan mereka dan terus bertindak melawan dampak krisis iklim dengan cara mereka sendiri, dengan kearifan, ketahanan, dan harapan. Dari semangat inilah Koalisi ADAPTASI (Angin dari Pesisir dan Pulau Kecil Timur Indonesia) lahir, mencerminkan dedikasi mereka untuk berjalan bersama komunitas, memperkuat inisiatif lokal, dan memperjuangkan aksi iklim yang adil dan berkelanjutan.

06 November 2025

 

Koalisi ini bekerja di tiga kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur: Sumba Timur, Rote Ndao, dan Lembata—wilayah-wilayah yang berada di garis depan perubahan iklim, namun kaya akan kearifan lokal dan ketahanan komunitas. ADAPTASI terdiri dari organisasi-organisasi yang memiliki visi dan nilai-nilai yang sama: untuk mendorong perubahan yang berpusat pada manusia dan planet. Ini termasuk Yayasan Penabulu (sebagai pemimpin koalisi), Konsil LSM, YAPEKA, CTSS, Desa Lestari, KPI, Sinergantara, Yayasan Barakat, dan Koppesda. Bersama-sama, mereka membangun jalur kolaborasi yang memperkuat suara dari kelompok marjinal, mendorong aksi akar rumput, dan menanam benih harapan untuk masa depan yang berkelanjutan.

 

Peluncuran proyek VCA dengan pemerintah daerah Lembata, memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan.

 

Perjalanan Koalisi ADAPTASI dimulai pada tahun 2020, sebuah langkah pertama yang sederhana namun penuh harapan. Mereka berfungsi sebagai jembatan—menghubungkan suara komunitas dengan kebijakan pemerintah dan mengaitkan harapan akar rumput dengan ruang pengambilan keputusan. Meluncurkan proyek ini jauh dari mudah. Pandemi COVID-19 membawa tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menuntut perencanaan yang cermat dan komitmen kuat terhadap keselamatan. Kami harus membangun kepercayaan di tengah ketidakpastian. Protokol kesehatan diberlakukan dengan ketat, dan setiap pertemuan dibatasi jumlah pesertanya untuk memastikan lingkungan yang aman bagi semua. Kami memulai dengan membangun jembatan—menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah dan membuka ruang dialog yang dapat menjadi fondasi kolaborasi. Pada saat yang sama, kami melibatkan pemangku kepentingan lokal utama, memperkenalkan visi bersama tentang aksi iklim yang adil dan berakar pada kekuatan komunitas.

Pada tahun kedua, langkah kami semakin membumi. Fasilitasi komunitas dimulai, dipandu oleh keyakinan bahwa kekuatan perubahan yang sesungguhnya terletak pada masyarakat itu sendiri. Forum-forum didirikan sebagai titik pertemuan antara warga dan otoritas lokal. Di ruang-ruang tersebut, suara-suara lokal tidak hanya didengar tetapi juga diakui sebagai kekuatan pendorong. Setiap forum menjadi momen penting—ruang di mana pengalaman, pengetahuan, dan harapan bertemu untuk membentuk masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

 

Sebuah pertemuan untuk membentuk lembaga adat di Rote Ndao sebagai bagian dari penguatan institusi komunitas dalam menanggapi perubahan iklim.

 

 

Melalui fasilitasi yang sabar dan upaya penguatan kapasitas yang konsisten, sebuah kekuatan baru telah muncul dari kelompok marjinal—13 Juara Lokal yang kini berdiri di garis depan, mengadvokasi aksi iklim dari tingkat desa hingga panggung nasional. Mereka bukan hanya wajah perubahan tetapi juga pendorong harapan di tengah krisis iklim. Lebih dari Rp 4,2 miliar sumber daya telah dimobilisasi—melalui pendanaan publik, kontribusi CSR, dan dukungan donor—untuk memperkuat dan memperluas berbagai inisiatif. Upaya advokasi paralel telah menghasilkan 10 dokumen kebijakan, mulai dari peraturan desa hingga pedoman tingkat provinsi yang mendukung aksi iklim berbasis komunitas.

Empat forum multi-pemangku kepentingan kini aktif di tiga kabupaten dan satu provinsi, menciptakan ruang kolaborasi di mana suara komunitas dan pembuat kebijakan bertemu. Pengetahuan juga telah berkembang—12 produk pengetahuan telah dikembangkan sebagai alat pembelajaran lintas wilayah, dan di Sumba Timur, sebuah pusat respons bencana dan perubahan iklim telah didirikan. Selain itu, 62 artikel media telah membantu memperkuat cerita dan solusi lokal kepada publik yang lebih luas. Ini bukan sekadar angka, tetapi napas transformasi—lahir dari kepercayaan, kolaborasi, dan kekuatan komunitas untuk membentuk masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

 

Perwakilan pemuda dan komunitas adat dari Sumba Timur berpartisipasi aktif dalam pelatihan dan diskusi tentang perubahan iklim.

 

Perjalanan Koalisi ADAPTASI bukan hanya tentang program, angka, atau laporan. Ini adalah kisah tentang bagaimana kepercayaan dibangun, bagaimana suara-suara dari kelompok marjinal dibawa ke pusat, dan bagaimana kekuatan tumbuh ketika semua orang berjalan bersama. Sejak awal, kami belajar bahwa koordinasi yang teratur adalah urat nadi kerja kolektif. Ini bukan hanya tentang pertemuan, tetapi tentang menciptakan ruang untuk saling mendengarkan, saling menguatkan, dan memastikan setiap langkah tetap selaras. Di tengah perubahan yang cepat—sosial, politik, dan lingkungan—kami juga belajar untuk menjadi adaptif dan fleksibel. Tidak semua hal bisa direncanakan, tetapi semua hal bisa ditanggapi dengan bijak. Dalam koalisi ini, kami membongkar batasan antara “koordinator” dan “staf.” Kami memilih untuk menjadi satu keluarga besar—berdiri sebagai setara, berbagi peran, dan tumbuh dalam semangat kesetaraan dan saling percaya.

Pelajaran penting lainnya adalah pentingnya mendokumentasikan praktik terbaik, kearifan lokal, dan model aksi iklim yang dipimpin oleh juara lokal. Dokumentasi semacam itu berfungsi sebagai sumber pembelajaran, alat advokasi, dan catatan berharga yang memperkuat dampak tindakan yang dipimpin komunitas.

Akhirnya, sinergi antara komunitas, organisasi masyarakat sipil (OMS), dan pemerintah daerah telah mulai membuahkan hasil. Dukungan pemerintah semakin terlihat melalui alokasi anggaran dan instrumen kebijakan yang membantu menciptakan lingkungan yang kondusif dari tingkat desa hingga kabupaten.

Di pesisir timur Indonesia, perubahan dimulai dengan langkah-langkah kecil namun bermakna: komunitas adat menjaga hutan dan tanah leluhur mereka dengan penghormatan yang mendalam, nelayan merawat laut melalui kearifan yang telah diwariskan turun-temurun, dan perempuan muda memimpin kelompok mereka sendiri dengan keberanian dan tekad. Ini adalah wajah-wajah transformasi yang dipupuk oleh Koalisi ADAPTASI—sebuah gerakan yang berlandaskan keyakinan bahwa krisis iklim harus ditangani dari akar rumput, melalui harapan yang tulus dan tindakan yang terarah.

Namun, perjalanan ini masih jauh dari selesai. Banyak komunitas masih membutuhkan dukungan untuk memastikan suara mereka didengar dan inisiatif yang telah mereka bangun dapat terus tumbuh dan berkembang. Di sinilah dukungan Anda menjadi krusial. Anda dapat berkontribusi dengan berbagai cara; setiap tindakan solidaritas memperkuat ketahanan komunitas. Bersama-sama, kita dapat menjaga api tetap menyala—dan memperluas cahaya perubahan ke lebih banyak pelosok negeri.

 

Pelajari lebih lanjut tentang mitra kami