Pekan Iklim Indonesia 2024: Merayakan Aksi Lokal untuk Dampak Global
Pada bulan Desember 2024, Pekan Iklim Indonesia muncul sebagai platform dinamis yang memperkuat suara mereka yang berada di garis depan dalam krisis iklim. Diadakan di Taman Ismail Marzuki yang ikonik di Jakarta, acara ini mengusung tema "Merayakan Aksi Iklim Lokal untuk Dampak Global", yang mempertemukan para pembuat kebijakan, aktivis, seniman, dan komunitas lokal.
Melalui perpaduan antara diskusi, seni, dan inisiatif akar rumput, festival ini memamerkan kekuatan solusi iklim yang dipimpin oleh masyarakat lokal dan menyerukan tindakan yang mendesak dan adil.
Seruan untuk Partisipasi yang Berarti dalam Solusi Iklim
Urgensi krisis iklim belum pernah terlihat lebih jelas. Data dari Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP29) di Baku, Azerbaijan, mengonfirmasi bahwa tahun 2024 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat, melebihi ambang batas kritis pemanasan global 1,5°C. Kebutuhan akan solusi yang digerakkan oleh masyarakat lokal menjadi sangat penting di Indonesia, di mana perubahan iklim secara tidak proporsional mempengaruhi masyarakat yang rentan meskipun jejak karbon mereka sangat kecil.
Febrilia Ekawati, Ketua Indonesia Climate Week, menekankan pentingnya memastikan partisipasi penuh dan bermakna dari komunitas-komunitas tersebut dalam membentuk respons iklim. ”Masyarakat di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, NTT, dan Tanah Papua tidak hanya menghadapi dampak perubahan iklim, namun juga secara aktif mengembangkan solusi inovatif yang dipimpin oleh masyarakat setempat. Sudah saatnya suara mereka didengar dan aksi mereka didukung.”
Suara, Kolaborasi, dan Keadilan Iklim
Acara yang berlangsung selama lima hari ini menampilkan beragam kegiatan, mulai dari diskusi panel dan dialog kebijakan hingga pameran seni dan pemutaran film. Acara-acara ini mendorong kolaborasi antara perwakilan pemerintah, organisasi masyarakat sipil (OMS), dan komunitas lokal, memperkuat pesan bahwa aksi iklim harus inklusif dan partisipatif.

Salah satu sorotan utama adalah Ruang Empati dan Ko-Kreasi, di mana diskusi berpusat pada perlunya strategi iklim yang holistik dan dipimpin oleh masyarakat. Marc Gerritsen, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, menghadiri sesi ini bersama perwakilan dari Aliansi VCA, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai kementerian. Sikap kolektif mereka jelas: aksi iklim yang dipimpin oleh masyarakat tidak hanya berharga – tetapi juga penting.
Aditya Bayunanda, CEO WWF-Indonesia, menyampaikan hal yang sama: ”Mencapai keadilan iklim adalah tanggung jawab bersama. Kita harus melindungi dan meningkatkan inisiatif iklim lokal yang selaras dengan kebutuhan dan kenyataan di daerah.”
Seni, Budaya, dan Kearifan Lokal sebagai Aksi Iklim
Selain diskusi kebijakan, Pekan Iklim Indonesia mengintegrasikan seni dan budaya ke dalam dialog iklim, menampilkan bagaimana pengetahuan tradisional dan ekspresi kreatif dapat mendorong kesadaran dan aksi iklim.
Pengunjung menjelajahi pameran Noken, tas anyaman tradisional dari Papua, dan patung-patung kayu berukir rumit yang dibuat oleh pengrajin Papua. Festival ini juga menampilkan stan-stan interaktif, seperti ruang edukasi energi terbarukan Mentari, di mana para pengunjung dapat belajar mengenai tenaga surya sambil membuat sketsa gambar. Sementara itu, Koalisi Pangan Baik menampilkan alternatif pangan lokal dari NTT, yang mengadvokasi konsumsi yang berkelanjutan.
Pemutaran film dalam acara ini juga tak kalah berdampak. Malam pembukaan menampilkan pertunjukan tarian tradisional oleh VCA Tanah Papua, yang menjadi latar belakang bagi narasi yang kuat tentang perjuangan iklim. Salah satu film yang menarik perhatian adalah Ignited, sebuah film yang menggugah pemikiran oleh Riri Royanto yang mengeksplorasi persinggungan antara seni, aktivisme, dan advokasi lingkungan.
Lokakarya Langsung dan Keterlibatan Masyarakat
Lokakarya menyediakan ruang interaktif bagi para peserta untuk mendapatkan keterampilan praktis dalam kehidupan yang berkelanjutan. Para peserta terlibat dalam pembuatan manik-manik solidaritas, belajar tentang alternatif makanan berbasis singkong, dan berpartisipasi dalam sesi pembuatan sabun ramah lingkungan dan sabun ramah lingkungan.

Artivisme memainkan peran utama, dengan lokakarya tentang cerita wayang kulit dan mendaur ulang sampah plastik menjadi karya seni yang ekspresif. Kegiatan-kegiatan ini mendorong kreativitas dan mendemonstrasikan cara-cara praktis untuk menggunakan kembali bahan dan mengurangi dampak lingkungan.
Meningkatkan Solusi Lokal untuk Mendorong Perubahan Sistemik
Sejak tahun 2021, VCA Indonesia telah memperjuangkan ketahanan iklim di tingkat akar rumput, memobilisasi 14 forum multi-pemangku kepentingan, memengaruhi 11 kebijakan dari tingkat desa hingga provinsi, dan mendapatkan dana sekitar Rp 6 miliar untuk inisiatif yang dipimpin oleh masyarakat. Upaya-upaya ini telah mendukung reboisasi hutan bakau, konservasi mata air, pembersihan pantai, dan budidaya pangan lokal, yang membuktikan bahwa tindakan skala kecil dapat mendorong transformasi sistemik.
Namun, aksi lokal saja tidak cukup. Perubahan paradigma diperlukan di tingkat kebijakan untuk mendukung adaptasi iklim jangka panjang. ”Kita membutuhkan transformasi sistemik,” ujar Arti Indallah Tjakranegara dari VCA Indonesia – Yayasan Humanis. ”Para pembuat kebijakan harus mengadopsi tata kelola yang berkelanjutan, adaptif, dan pendekatan berbasis hak untuk mengelola krisis iklim, terutama untuk wilayah pesisir, tanah adat, dan wilayah pertanian, untuk memastikan ketahanan bagi generasi yang akan datang.”
Komitmen Bersama untuk Keadilan Iklim
Pesan utama dari Pekan Iklim Indonesia 2024 sangat jelas: kebijakan iklim harus adil dan inklusif. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton pasif, tetapi harus menjadi partisipan aktif dalam mengambil keputusan yang mempengaruhi kehidupan dan masa depan mereka.

”Kita membutuhkan kebijakan iklim yang adil dan melibatkan masyarakat secara penuh. Tanpa suara mereka, kebijakan berisiko gagal melindungi masyarakat yang seharusnya dilindungi,” pungkas Arti Indallah.
Di saat dunia bergulat dengan krisis iklim yang semakin parah, Pekan Iklim Indonesia 2024 menjadi inspirasi sekaligus ajakan untuk bertindak. Saatnya bertindak adalah sekarang, dan itu dimulai dengan memberdayakan mereka yang sudah memimpin.
