Mama Bagarak: Komunitas Sipil dan Marginal Bertindak sebagai Solusi Keadilan Iklim
Program Mama Bagarak merupakan inisiatif dari Coaction Indonesia dan Pikul untuk mewujudkan keadilan iklim. Dengan visi “Komunitas Sipil dan Marginal dalam Aksi sebagai Solusi Keadilan Iklim”, program ini berfokus pada dukungan terhadap masyarakat sipil, komunitas, dan kelompok marginal sebagai pemegang hak utama.

Kelompok-kelompok ini membutuhkan peningkatan kapasitas, jaringan pembelajaran yang efektif, dan platform untuk memperkuat solusi lokal. Melalui pendekatan multi-pemangku kepentingan yang inovatif, program ini bertujuan untuk menciptakan jaringan kolaboratif yang mendorong partisipasi aktif para pemegang hak dalam aksi iklim yang adil. Diharapkan akan tercipta ekosistem komunitas yang mampu menginisiasi, mengimplementasikan, dan menyebarluaskan solusi iklim yang adil dan disesuaikan dengan konteks lokal di Indonesia.
Melalui “Mama Bagarak: Komunitas Sipil dan Marginal dalam Aksi sebagai Solusi Keadilan Iklim”, Koaksi Indonesia dan Pikul meletakkan dasar transformasi dengan melibatkan kelompok masyarakat sipil, komunitas, pemuda, dan kelompok marginal sebagai pemegang hak utama. Implementasi program ini dimulai dengan pemetaan kebutuhan kelompok sasaran melalui diskusi partisipatif dan studi lapangan. Dengan memahami realitas dan aspirasi mereka, pelatihan peningkatan kapasitas dirancang secara kontekstual—baik untuk advokasi kebijakan, manajemen komunitas, maupun inovasi aksi iklim berbasis lokal.
Salah satu kekuatan utama implementasi adalah pembangunan simpul jaringan yang efektif yang tidak hanya menyatukan kelompok-kelompok tetapi juga mendorong pembelajaran bersama. Setiap kelompok diberi ruang untuk berbagi cerita, strategi, dan tantangan dalam perjuangan mereka untuk keadilan iklim. Proses ini terus diperkuat melalui pendampingan, pelatihan daring dan luring, serta pembentukan forum aksi lintas sektor. Keterlibatan multi-pemangku kepentingan—pentahelix: masyarakat sipil, pemerintah, akademisi, media, dan sektor swasta—merupakan modal penting untuk menjamin keberlanjutan transformasi di tingkat tapak di Kota dan Kabupaten Kupang.
DAMPAK SOSIAL DAN TRANSFORMASI
Dampak utama yang dirasakan adalah tumbuhnya rasa kepemilikan dan kepercayaan diri pada para pemegang hak. Masyarakat yang sebelumnya termarginalkan kini muncul sebagai pelopor solusi. Sebagai contoh, perempuan nelayan yang tergabung dalam Majelis Nelayan Bersatu Kota Kupang telah mengembangkan inovasi pengelolaan sumber daya laut dan pesisir yang bernilai tambah, yang kemudian didokumentasikan sebagai praktik baik. Selain itu, jaringan ini telah berkolaborasi dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas dan advokasi kebijakan untuk melindungi dan mengelola ekosistem mangrove. Jaringan ini telah memberikan rekomendasi kebijakan di tingkat provinsi melalui dokumen memo kebijakan.
Transformasi juga tercermin dalam meningkatnya pemahaman masyarakat tentang hak mereka untuk terlibat dalam proses perencanaan pembangunan dan tata kelola lingkungan. Kaum muda, kelompok minoritas, perempuan, dan penyandang disabilitas semakin aktif menyuarakan ide dan terlibat dalam forum kebijakan. Keberadaan ruang belajar bersama memfasilitasi transfer pengetahuan antar komunitas, memungkinkan solusi menjadi lebih terintegrasi daripada parsial.

PEMBELAJARAN UTAMA
Pembelajaran utama dari program VCA adalah pentingnya koordinasi intensif, mekanisme adaptif, dan berbagi pengetahuan berkelanjutan di antara para kolaborator. Adaptasi, pembagian peran yang jelas, dan identifikasi program serta mandat yang relevan memberikan dasar yang kuat untuk sinergi multi-koalisi. Selain itu, proses verifikasi hasil dan pengakuan kontribusi mencegah klaim manfaat yang tumpang tindih, memperkuat rasa kepemilikan bersama. Dengan strategi global yang disepakati bersama, setiap anggota aliansi dapat lebih fokus dalam mengejar tujuan perubahan yang nyata dan terukur yang selaras dengan visi Voices for Just Climate Action.
INSPIRASI DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN
Program Mama Bagarak adalah bukti nyata bahwa perubahan besar dapat tumbuh dari tingkat tapak. Kisah-kisah para pemegang hak yang melakukan aksi adaptasi terus bergerak, bahkan di tengah keterbatasan. Membangun ketahanan dari pembentukan kelompok Majelis Nelayan Bersatu Kota Kupang sebagai wadah agen perubahan, memperkuat aksi dengan eskalasi publikasi berjenjang dari tingkat tapak hingga nasional bahkan global. Perluasan jaringan kerja kolaboratif telah menginspirasi banyak pihak untuk berkomitmen mendukung keberlanjutan aksi iklim yang adil. Suara-suara mereka kini menggema ke berbagai arah, membawa pesan bahwa masyarakat sipil dan kelompok marginal adalah aktor utama perubahan di masa depan.
PELAJARAN DAN PESAN UTAMA KAMI
-
- Pengakuan terhadap aksi iklim lokal dan para pelakunya, yang diperkuat oleh jangkauan narasi dari tingkat tapak hingga nasional bahkan global, adalah langkah strategis menuju keberhasilan program.
-
- Penguatan kapasitas aktor iklim lokal penting untuk memastikan dampak yang terukur dan berkelanjutan.
-
- Tumbuhnya aksi kolektif adalah penyangga utama bagi terwujudnya ketahanan komunitas terhadap dampak perubahan iklim.
-
- Keterlibatan banyak pihak, termasuk akademisi dan sektor swasta, telah mendorong inovasi aksi iklim berbasis komunitas, termasuk penggunaan teknologi, informasi, dan komunikasi.
-
- Implementasi advokasi kebijakan pemerintah multi-level dari tingkat desa hingga nasional secara inklusif untuk memastikan keberlanjutan dukungan bagi program pembangunan di masa depan.
-
- Penguatan jaringan global berpotensi memperkuat aksi iklim lokal, menjadikannya diskursus yang meluas yang dapat memperkaya strategi implementasi pasca-program.
