Ketika Suara Bangkit: VCA Mengalihkan Kekuatan kepada Komunitas di Garis Depan Krisis Iklim
Pada tanggal 24 September 2024, di Maumere, Sikka, Indonesia, empat puluh lima perwakilan masyarakat yang terdiri dari pemuda, petani, nelayan, pemimpin adat, dan aktor masyarakat sipil berdiri bersama dan menyuarakan apa yang telah lama tidak terucapkan: bahwa krisis iklim di Nusa Tenggara Timur (NTT) memperparah ketidakadilan struktural yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dari pertemuan tersebut, muncullah sebuah manifesto yang kuat berjudul ”Ketidakadilan Pembangunan dan Ekonomi di Nusa Tenggara Timur Menambah Beban Ganda Masyarakat yang Menghadapi Krisis Iklim.” Ditulis melalui dialog partisipatif dan berdasarkan pengalaman langsung, dokumen tersebut diserahkan langsung kepada Pemerintah Kabupaten Sikka dan Provinsi NTT dan memberikan kontribusi akademis terhadap RUU Keadilan Iklim yang sedang diperjuangkan oleh koalisi ARUKI.
Pengajuan ini bukan hanya sebagai tindakan protes, tetapi juga menandai sebuah tonggak sejarah. Ini adalah ilustrasi konkret tentang bagaimana platform yang didukung oleh Voices for Just Climate Action (VCA) memberdayakan suara-suara yang selama ini terpinggirkan untuk secara aktif mempengaruhi kebijakan publik. Di seluruh Indonesia, pekerjaan VCA menciptakan ruang di meja perundingan bagi perempuan, masyarakat adat, individu yang memiliki pandangan gender yang luas, dan komunitas terpinggirkan lainnya, yang kini tidak lagi menjadi penerima pasif program iklim, tetapi juga menjadi pengambil keputusan yang aktif.
Di Flores Timur, Maria Mone Soge, seorang petani dan advokat sistem pangan lokal dari Desa Hewa, berpartisipasi dalam konsultasi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh WRI Indonesia. Di sana, bersama dengan para ahli dan pembuat kebijakan, ia memberikan wawasan yang membumi tentang sistem pangan dan ketahanan iklim. Pengetahuannya tidak berasal dari buku teks, melainkan dari tanah itu sendiri, dan rekomendasinya kini menjadi dasar bagi kerangka kerja strategis yang dirancang untuk membentuk ekonomi pangan di Indonesia Timur.
Di Unurum Guay, Papua, enam kelompok perempuan berkumpul pada tahun 2024 untuk membentuk Forum Aksi Iklim Perempuan, sebuah platform kolektif yang secara resmi diakui dan didukung oleh pemerintah kecamatan. Hal ini menandai perubahan signifikan dalam konteks yang sering kali meminggirkan perempuan adat dalam pengambilan keputusan. Melalui forum ini, mereka kini memiliki suara yang sah dalam menetapkan prioritas pembangunan daerah, merencanakan adaptasi iklim, dan mengarahkan alokasi sumber daya. Sementara di Sarbe, Kabupaten Teluk Bintuni, kelompok perempuan ASWANEI berhasil mengadvokasi dukungan modal untuk mendirikan usaha masyarakat: BUMKAM ”Torang Bisa”. Upaya mereka menghasilkan alokasi dana awal sebesar Rp 30 juta yang diperoleh melalui perjanjian formal dengan pemerintah daerah, yang menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berpartisipasi tetapi juga memimpin dalam perencanaan ekonomi dan ketahanan iklim.
Pindah ke Tambrauw, masyarakat adat dari Resye dan Womom mendapatkan pengakuan resmi atas inisiatif ekowisata mereka, REFUN RESYE AND WOMOM, sebagai kelompok wisata masyarakat(Pokdarwis) resmi. Mereka juga mengajukan dan menerima persetujuan pemerintah untuk proyek energi surya yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memperkuat infrastruktur lokal. Upaya-upaya ini, yang dipimpin oleh para pemimpin masyarakat adat dan didukung oleh kelompok-kelompok pemuda, bersifat inklusif dan responsif gender di setiap tahapannya. Melalui implementasi VCA Indonesia, suara-suara dari masyarakat perkotaan juga meningkat.
Dari Maumere hingga Teluk Bintuni, dari Papua hingga Yogyakarta, kisah-kisah ini menunjukkan bahwa keadilan iklim bukanlah sekadar ambisi kebijakan, tetapi merupakan perjuangan yang hidup dan terus berlanjut yang dipimpin oleh orang-orang yang nyata dalam komunitas yang nyata. Maria menyuarakan kebenaran dalam forum kebijakan. Amo yang mengetuk pintu pemerintah. Ini adalah perempuan yang mengukir ruang dalam proses perencanaan. Ini adalah aksi akar rumput yang dimulai dari tingkat lokal dan beresonansi secara nasional.
Kisah-kisah ini lebih dari sekadar pencapaian yang terisolasi; kisah-kisah ini juga secara langsung menunjukkan pergeseran sistemik yang lebih dalam. Di seluruh Indonesia, VCA membantu membangun jalur yang memungkinkan kelompok-kelompok yang terpinggirkan untuk bergerak dari pinggiran pembicaraan tentang iklim ke pusat pengambilan keputusan. Partisipasi mereka tidak lagi bersifat simbolis, tetapi telah menjadi struktural, membentuk kebijakan, dan mengubah kekuasaan.
