Federasi Perempuan Indonesia: Memberdayakan Perempuan, Memperkuat Komunitas, dan Melindungi Lingkungan

Di negara di mana diskriminasi dan standar ganda terhadap perempuan masih sering terjadi, memiliki komunitas yang memberdayakan dan mengangkat satu sama lain serta mendorong perempuan untuk memberikan dampak sangat dibutuhkan - salah satunya adalah Women's Federation Indonesia.

Apa itu Federasi Wanita?

Women’s Federation (WF) di Indonesia adalah kelompok komunitas yang dibuat oleh perempuan, untuk perempuan. Kelompok komunitas ini telah tersebar di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja, yang terdiri dari para perempuan di sekitar lingkungan dan daerah sebagai anggota, di mana para perempuan ini berkumpul bersama sebagai sebuah komunitas untuk belajar dan berkembang. Fokus utamanya adalah mendorong perempuan untuk melihat dan memahami masalah di sekitar tempat tinggal mereka, dimana Federasi Perempuan berperan sebagai wadah bagi perempuan untuk berbagi informasi dan masalah, serta mencari solusi kolaboratif untuk mengatasi masalah tersebut.

 

 

Namun, yang membuat Federasi Perempuan berbeda adalah fokusnya pada dampak lingkungan, khususnya pada aksi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Di sini, para perempuan memahami dan menyadari ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, dan melalui berbagai program sayadan inisiatif, mereka berfokus pada menemukan dan menerapkan tindakan yang dapat meningkatkan komunitas mereka masing-masing.

 

Dampak dan Pengaruh: Program-program di bawah Federasi Perempuan

Program-program yang dilaksanakan oleh para perempuan di Federasi Perempuan berbasis komunitas. Program ini dilaksanakan di seluruh wilayah tempat tinggal mereka dan ditujukan tidak hanya untuk beradaptasi dan melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan di wilayah tersebut melalui

  1. Pertanian Perkotaan (Pertanian Perkoatan): penggunaan lahan, seperti bagian dari rumah atau kebun, untuk menanam dan memelihara sayuran.
  2. Pengelolaan Sampah (Pengelolaan Sampah): Ini melibatkan manajemen sampah organik dan anorganik dan memanfaatkannya untuk mendapatkan nilai ekonomi. Sebagai contoh, sampah anorganik seperti botol plastik dapat digunakan kembali sebagai pot tanaman. Sebaliknya, sampah organik dapat difermentasi menjadi enzim ramah lingkungan dan digunakan sebagai pengganti pupuk.
  3. Sosialisasi Kantong Plastik yang Dapat Digunakan Kembali: Hal ini melibatkan promosi penggunaan kantong plastik yang dapat digunakan kembali dan pengurangan ketergantungan pada kantong plastik sekali pakai. Perusahaan mensosialisasikan hal ini tidak hanya kepada pembeli umum tetapi juga kepada penjual di pasar. Hasilnya, peningkatan penggunaan kantong plastik yang dapat digunakan kembali di kalangan pembeli di pasar dapat dilihat.

Baik Pertanian Perkotaan maupun Pengelolaan Sampah menciptakan keberlanjutan ekonomi. Sayuran yang ditanam secara mandiri di setiap rumah, serta pupuk yang dibuat dari itu fermentasi sampah organik, berarti mereka tidak perlu lagi membeli produk ini dari supermarket. Di Jogja, harga cabai di pasaran sangat fluktuatif, dan meskipun tidak memiliki lahan yang luas untuk menanam, namun setiap rumah setidaknya dapat menanam dua pohon cabai, sehingga dapat menutupi kebutuhan cabai. Selain itu, cabai yang ditanam di kebun sendiri dan eko-enzim (hasil panen eko-enzim bisa mencapai puluhan botol) yang dihasilkan dari rumah sendiri dapat dijual dan menghasilkan keuntungan.

Secara keseluruhan, program-program ini juga meningkatkan kesadaran akan perubahan iklim di kalangan perempuan di masyarakat dan masyarakat. Inisiatif seperti urban farming membutuhkan komunitas dan masyarakat untuk belajar bersama dalam membentuk dan mengimplementasikannya. Melalui inisiatif ini, pengetahuan tentang ancaman perubahan iklim serta cara beradaptasi dan memitigasinya melalui kemampuan mereka sendiri diperkuat.

 

Kolaborasi dan Dukungan

Salah satu aktor penting yang berperan besar bagi Federasi Perempuan adalah SPEAK Indonesia, yang memiliki ketertarikan yang sama dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Melalui SPEAK Indonesia, para perempuan di Federasi Perempuan diberi kesempatan dan fasilitas untuk berkumpul dan berjejaring. Sebagai contoh, SPEAK telah membantu mitra komunitas di tingkat kecamatan ( kelurahan).

Federasi Perempuan akan membuat program kerja yang kemudian akan didiskusikan dan diserahkan kepada SPEAK Indonesia. Setelah itu, SPEAK akan membantu menjembatani Federasi Perempuan dengan pejabat yang berwenang untuk perencanaan dan pelaksanaan program dan mendampingi program kerja tersebut mulai dari persiapan hingga selesai. Sebagai contoh, di Jogja, SPEAK Indonesia telah membantu komunitas untuk menjembatani komunitas dengan pihak kecamatan untuk perijinan tas ramah lingkungan di salah satu pasar di daerah tersebut. Setelah memilih pasar, SPEAK Indonesia mendampingi persiapan eco bag, proses sosialisasi, dan implementasi program kepada penjual dan pengunjung melalui edukasi.

Selanjutnya, SPEAK Indonesia juga membantu Federasi Perempuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan mereka sebagai perempuan melalui pelatihan berbicara di depan umum, jurnalisme, dan fasilitator. Pelatihan-pelatihan ini membantu meningkatkan keterampilan perempuan dalam menyampaikan apa yang mereka lihat dan pelajari di media sosial dan belajar menjadi fasilitator di daerah masing-masing.

Federasi Perempuan juga bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) untuk membagikan apa yang telah mereka lakukan di Jogja dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk membersihkan sungai bersama Karang Taruna.

 

Federasi Perempuan sebagai Penguat Suara Perempuan: Dampak Pribadi bagi Perempuan

Selain berbagai program peningkatan komunitas lingkungannyasaya, Federasi Perempuan juga terkenal karena berperan sebagai katalisator perempuan untuk tumbuh dan berdampak pada masyarakat.s, Federasi Wanita bahkan lebih terkenal karena bertindak sebagai katalisator bagi wanita untuk tumbuh sambil memberikan dampak pada masyarakat.

Ibu Ambar, anggota Federasi Perempuan di Jogja, dengan sepenuh hati menekankan bagaimana komunitas ini telah membantunya mendapatkan lebih banyak pengetahuan. Pada awalnya, ia menyebutkan bahwa komunitas ini hanyalah sekumpulan perempuan yang berkumpul untuk mendiskusikan masalah di daerahnya, tetapi sekarang, mereka dapat berkolaborasi dengan orang lain untuk menyelesaikan masalah ini dan mengambil tindakan. Selain itu, komunitas ini juga telah membantunya memperluas jaringan, menjalin pertemanan, dan memperluas wawasannya melalui acara-acara komunitas dan acara-acara formal yang memungkinkan dia untuk bertemu dengan perempuan dari seluruh penjuru negeri yang mengadvokasi masalah yang sama dengan mereka.

Aspek lain yang ia sebutkan dengan penuh semangat adalah bagaimana Federasi Wanita telah membantunya untuk lebih percaya diri karena pengetahuan baru yang ia pelajari dan teman-teman yang ia dapatkan. Ia juga dapat melihat bagaimana perempuan di sekitarnya menjadi lebih percaya diri, dari yang tadinya ragu-ragu untuk berbicara di depan umum menjadi lebih percaya diri untuk menampilkan diri mereka di depan banyak orang.

Anggota Federasi Perempuan lainnya di Jakarta adalah Ibu Hartini, yang menyoroti peran Federasi Perempuan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan. Misalnya, dengan bergabung, mereka dapat lebih memahami cara mengelola sampah organik dan anorganik dengan baik sehingga dapat menghasilkan nilai ekonomi dan membantu pendapatan keluarga. Selain itu, komunitas ini juga membantu meningkatkan keterampilan seperti menjahit sisa kain bekas untuk dijadikan taplak meja dan keset untuk dijual.

Para perempuan di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri, kini memiliki pengetahuan yang sangat penting dan praktis untuk kehidupan sehari-hari. Sebelumnya, ia tidak mengerti bagaimana mengelola sampah, menanam tanaman organik, atau mempraktikkan urban farming. Namun kini dengan pengetahuan yang telah ia pelajari dan praktikkan, ia menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan juga mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Isu sosial lain yang disinggung oleh Ibu Ambar adalah fakta bahwa banyak orang melihat perempuan sebagai “kelas dua”, dan hal ini masih dapat kita lihat di Indonesia meskipun zaman sudah modern. Federasi Perempuan membuktikan bahwa setiap perempuan memiliki potensi, dan kita dapat bersatu untuk mengatasi masalah di sekitar kita. Melalui komunitas ini, perempuan dapat memberdayakan diri mereka sendiri dan mengatasi masalah bersama-sama meskipun ada banyak tantangan.

Di sisi lain, Ibu Hartini menekankan bahwa perempuan masih didiskriminasi dan dipandang rendah, sehingga suara dan aspirasi mereka tidak didengar atau diperhatikan. Melalui Federasi Perempuan, para perempuan di sekitarnya meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka bersama-sama, terutama dalam berbicara di depan umum dalam bidang jurnalistik, sehingga perempuan mampu berbicara, menyuarakan ide, dan mengekspresikan keinginan serta tujuan mereka.

Federasi Perempuan lebih dari sekadar forum-ini adalah kekuatan kolektif di mana perempuan dapat menyuarakan keprihatinan mereka, berkolaborasi, dan mengambil tindakan yang berarti untuk mengatasi masalah-masalah yang mendesak di komunitas mereka. Melalui pengetahuan bersama, saling mendukung, dan solusi nyata, komunitas ini terus memberdayakan perempuan untuk menciptakan perubahan yang langgeng.

Seperti yang ditekankan oleh Bu Ambar, masih ada kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam menanggapi isu-isu sosial kemasyarakatan, mulai dari pengelolaan sampah hingga akses air bersih. Penguatan keterampilan ini akan memungkinkan mereka untuk bekerja bersama para pembuat kebijakan secara lebih efektif. Beliau juga mendorong perempuan yang mungkin masih ragu untuk bergabung, mengingatkan mereka bahwa organisasi ini adalah ruang yang aman untuk berbicara dan menjadi bagian dari solusi. Sementara itu, Bu Hartini menyoroti kebutuhan mendesak akan kesadaran iklim yang lebih besar, mengajak lebih banyak perempuan untuk mengambil tindakan, baik dengan bergabung dengan WF atau membuat perubahan kecil yang menghasilkan dampak yang lebih besar dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, seperti yang dikatakan Bu Ambar, kekuatan WF terletak pada keberagamannya-perempuan dari berbagai latar belakang yang berbeda berkumpul untuk memecahkan masalah yang berbeda, memperkaya komunitas secara keseluruhan. Bagi Bu Hartini, komunitas ini sangat luar biasa. Komunitas ini terdiri dari para perempuan yang sangat peduli terhadap lingkungan dan bersedia mendedikasikan waktu mereka untuk membuat perubahan.

Dengan kolaborasi, kesadaran, dan tindakan, Federasi Perempuan akan terus menjadi kekuatan yang kuat untuk perubahan, membentuk masa depan yang lebih baik bagi semua.

 

Tentang Perupadata

Perupadata adalah perusahaan media yang mengubah berita, informasi, dan data yang telah diverifikasi menjadi cerita visual yang jelas – mulai dari infografis hingga laporan. Didirikan pada tahun 2020 dan terdaftar sebagai PT Perupa Inspira Prakarsa pada tahun 2022, Perupadata membantu masyarakat untuk menemukan informasi yang salah dan memahami perubahan kebijakan untuk membuat keputusan yang lebih cerdas. Sebagai bagian dari VCA Alliance, Perupadata dengan bangga mendukung upaya kolektif untuk lingkungan dengan memperkuat strategi komunikasi dan memperkuat pesan keadilan iklim dengan jelas, lebih keras, dan lebih berdampak.

Pelajari lebih lanjut tentang mitra kami