Membingkai Perubahan Iklim sebagai Isu Hak Asasi Manusia: Kisah Yasinta dari Kupang

Seiring dengan perubahan iklim yang semakin memburuk selama bertahun-tahun, badai topan menjadi semakin sering terjadi di seluruh dunia. Badai tropis yang melanda Indonesia pada tahun 2021 telah memengaruhi mata pencaharian banyak orang dan mendorong para nelayan perempuan untuk mencari cara alternatif untuk mendapatkan penghasilan. Kisah Yasinta adalah salah satu kisah tentang kekuatan yang tenang dan perlawanan kolektif.

Pada tanggal 4 April 2021, siklon tropis yang dikenal dengan nama Seroja menghantam Kupang, sebuah daerah di Nusa Tenggara Timur atau NTT. Tragedi ini berdampak pada masyarakat pesisir setempat dan menjadi salah satu bencana terkait iklim terburuk di kawasan ini (yang mempengaruhi beberapa bagian Indonesia dan Australia). Menurut data yang diberikan oleh ASEAN Disaster Information Network, total 181 orang meninggal dunia, 50.000 orang mengungsi, dan lebih dari 466.000 orang terkena dampaknya. Selain itu, badai ini juga menghancurkan perahu dan alat tangkap ikan, yang merupakan peralatan penting bagi para nelayan lokal.

Karena cuaca menjadi semakin tidak dapat diprediksi, gelombang pasang yang tidak biasa telah menghambat perjalanan melaut yang biasa dilakukan, sehingga mengurangi akses masyarakat ke laut menjadi hanya empat kali per bulan. Topan juga mempengaruhi akses terhadap udara dan air bersih, serta tempat tinggal yang aman dan stabil, termasuk perlindungan dari bahaya lingkungan. Hal ini mendorong para nelayan perempuan untuk mencari cara alternatif untuk mendapatkan penghasilan, seperti menjual jagung atau kopi kepada wisatawan. Dengan hilangnya hak atas mata pencaharian, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi, penduduk setempat harus memulai kembali kehidupan mereka dari awal, termasuk Yasinta Adoe, seorang ibu tiga anak berusia 29 tahun yang merupakan anggota Koalisi Sipil, salah satu anggota aliansi VCA Indonesia.

pusat

Saat ini, Yasinta juga aktif di Majelis Nelayan Bersatu, sebuah serikat nelayan yang berfokus pada promosi pinjaman berbunga rendah untuk penggantian kapal, pemecah ombak untuk melindungi garis pantai, dan pengakuan hak-hak nelayan kecil atas ruang hidup yang aman dan berkelanjutan. Serikat ini percaya bahwa perubahan iklim bukan hanya masalah ekologi, tetapi juga masalah keadilan iklim dan hak asasi manusia, karena masyarakat yang terpinggirkan adalah pihak yang paling terdampak.

Untungnya, para nelayan setempat telah lama menanam pohon-pohon pesisir seperti waru dan bakau dalam upaya meminimalkan erosi dan melindungi pantai setempat.

”Pohon-pohon ini sudah ada di sini sejak tahun 2004. Contohnya pohon Waru ini, pohon ini membantu menjaga garis pantai agar tidak terlihat gundul, mengurangi dampak ombak, dan menjadi tempat berteduh para nelayan saat menunggu air laut surut. Tempat ini juga berguna untuk memarkir atau memperbaiki perahu mereka saat dibutuhkan”, kata Yasinta.

Oleh karena itu, individu seperti Yasinta sangat penting, karena mereka telah menjadi titik fokus komunitas, menjembatani penduduk setempat dengan khalayak yang lebih luas. Pada tahun 2015, Yasinta dan rekan-rekannya sesama perempuan nelayan berhasil menghentikan proyek pemerintah untuk membangun jogging track di sepanjang pesisir Pasir Panjang, yang akan berdampak pada tempat berlabuh perahu warga. Ia juga dengan bangga berkolaborasi dengan LSM serupa, seperti Yayasan Pikul dan Koaksi Indonesia (di bawah Aliansi Hivos dan VCA), untuk menuntut tindakan pemerintah dalam hal infrastruktur yang tahan terhadap perubahan iklim. Meskipun upayanya telah membuahkan hasil, masih ada kekurangan yang harus diperhatikan, dan ia membutuhkan bantuan dari banyak pihak, termasuk kita. Tindakan sederhana seperti berbagi cerita atau memahami situasi yang mereka hadapi sangatlah penting, dan upaya orang lain juga penting.

Kisah Yasinta adalah kisah tentang kekuatan yang tenang dan perlawanan kolektif. Meskipun sudah ada beberapa kemenangan, namun perjuangan ini masih jauh dari selesai. Seperti yang disampaikan oleh Muammar Fikrie melalui artikel asli untuk Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, perjalanan menuju keadilan iklim di tempat-tempat seperti Kupang membutuhkan banyak suara. Bahkan tindakan sederhana seperti berbagi cerita, mendengarkan dengan seksama, dan memahami realitas di lapangan, dapat memicu perubahan yang berarti. Kesadaran dan solidaritas Anda juga penting.

Pelajari lebih lanjut tentang mitra kami